|
Aqidah ANGKATAN PASCA UJIGENERASI
INSYIRAH Untuk
lebih memudahkan penggambaran wujud seseorang atau sekelompok orang atau
satu generasi yang telah sukses melewati masa uji, alangkah baiknya
kalau langsung memilih pengakuan Allah SWT terhadap Rasulullah SAW
sebagai pribadi dan para sahabat sebagai satu generasi. Kita
pilih beliau dan para sahabatnya sebagai standar kasus untuk menjadi
cermin sekaligus pembanding. Dengan begitu kita akan mudah
mengidentifikasi masing-masing diri kita sendiri, adakah sudah masuk
nominasi orang-orang yang diunggulkan mendapatkan sertifikat lulus
bersyahadat atau masih dalam proses uji. Pengakuan
itu diungkan Allah SWT dengan bahasa yang cukup sederhana, sehingga
menjadi begitu jelas dan enak untuk dipahami dan dimengerti dalam sebuah
firman-Nya : "Bukankah
Kami telah melapangkan untukmu akan dadamu (lega perasaanmu), dan Kami
telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu. Dan
Kami tinggikan bagimu sebutan namamu. Karena sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan) segeralah
kerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada
Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Q.S. Alam Nasyrah : 1-8). Ada
empat hasil minimal yang bisa diperoleh sebagaimana ayat di atas,
sebagai wujud peningkatan kualitas syahadat sesudah melalui uji coba
dalam bentuk liku-liku perjalanan panjang. Keempat hal tersebut
sekaligus menandai keberadaan syahadatnya dalam kondisi yang sudah mapan,
dalam posisi yang sudah tidak terancam, sudah lulus uji coba. Dengan
jaminan tersebut, berarti potesi yang dimiliki sudah luar biasa.
Sedikitpun tidak meragukan lagi untuk diperhadapkan dengan kondisi yang
paling jelek sekalipun. Siap diadu mutunya, sudah tahan banting. Mereka
yang sudah memiliki bobot syahadat yang mapan seperti ini terus
ditantang untuk bekerja dan berkarya. Baginya satu detik saja waktu
berlalu tanpa kerja dan karya sudah merupakan suatu kerugian yang amat
besar, baik untuk dirinya maupun orang lain. Karenanya
Allah tekankan kepada mereka yang sudah mencapai kualitas syahadat
seperti ini, tidak dibenarkan istirahat. Mereka dituntut untuk terus
aktif menggerakkan seluruh instrumen yang ada pada dirinya untuk
menghasilkan apa saja. Tak boleh berhenti berkreasi. Apabila sudah
selesai satu pekerjaan, supaya segera mengangkat kerja baru yang lebih
besar dan lebih berat lagi. Asal saja orientasi dan sasarannya hanyalah
untuk dan karena Allah SWT semata. Dengan
penekanan ini, maka mereka yang sudah sampai pada kualitas syahadat yang
lulus uji dijamin memiliki kemampuan untuk menjadi kelompok yang
memiliki kepeloporan, untuk selalu tampil mengangkat karya yang baru,
selalu tampil memprakarsai hal-hal yang diperlukan. Mereka adalah para
pioner yang tak pernah terlambat dalam mereaksi satu kondisi. Mereka
adalah kelompok Assabiqunal-awwalun. Yang selalu berada di barisan
terdepan pada setiap medan perjuangan. Mereka adalah pelopor-pelopor
pembangunan. Mereka
yang sudah lulus dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, dalam
perjalanan syahadatnya akan selalu tampil dengan kepeloporannya, selalu
ada pada barisan terdepan, bukan menjadi ummat buntut yang terus saja
mengekor pada kemajuan orang lain. Sangat
sulit dimengerti kalau ummat Islam dengan syahadatnya masih selalu saja
memiliki perasaan serba takut, serba cemas dan penuh kekhawatiran untuk
mengangkat karya-karya strategis yang justru sangat diperlukan.
Akibatnya kita sering kehilangan momentum, saat yang paling mahal,
paling berharga, paling strategis dalam menentukan kalah dan menang. Masih
banyak diantara ummat Islam mundur dari arena dan tidak mau memulai
kerja nyata hanya karena menghindari resiko serta takut dengan beban
yang mereka khawatirkan nantinya tidak akan terpikulkan. Seolah-olah
janji dan jaminan Tuhan seperti yang telah dibuktikan pada diri Nabi
sebagai contoh kasus kurang meyakinkan. Terkesan informasi itu sekedar
dengong semata. Mestinya
dengan syahadat itu saja sudah lebih dari cukup untuk dijadikan modal
dasar mengangkat kerja besar. Bukankah dengan syahadat berarti mereka
telah mengakui dengan penuh keyakinan kalau yang berkuasa itu Allah SWT
? Dialah yang menawarkan bantuan setiap saat kepada yang memperjuangkan
agama-Nya. "Intansurullaha yansurkum wayutsabbit aqdaamakum",
Jika kamu menolong agama Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kakimu. Kenapa
masih khawatir ? Bukankah Allah sudah berfirman dalam ayat yang lain: "Sesungguhnya
orang-orang yang berkata : 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka
istiqamah, niscaya turunlah kepada mereka malaikat, (mereka berkata)
Janganlah kamu takut, dan janganlah berduka cita dan bergembiralah kamu
dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu." (Q.S. Haamiim As-Sajdah
: 30). Dengan
ayat ini, apakah ummat Islam masih saja dihantui oleh berbagai ketakutan
? Nyatanya masih demikian, karena mereka belum istiqamah dengan
syahadatnya. Lain yang diucapkan lain pula perbuatan. Lain di bibir lain
di hati. Kedua,
dengan syahadat semestinya mereka sudah jual diri kepada Allah SWT. Tak
perlu jual mahal menerima titah dan perintah Allah. Bukankah kita tidak
punya lagi apa-apa di sisi-Nya ? Untuk apa lagi khawatir terhadap resiko
yang masih berupa dugaan dan prakiraan saja. Sangat
mengherankan bila seseorang yang sudah bersyahadat mundur teratur dari
arena perjuangan hanya karena takut bayangan resiko yang diperkirakan
oleh analisa otak dan nafsunya. Aneh ! Diakui atau tidak semuanya ini
menyangkut kualitas syahadat. Mereka yang mundur dari arena ini berarti
masih didominasi oleh nafsu. Sedangkan imannya tergusur kehilangan
posisi. Memang
tugas akal memberi pertimbangan, mencari jalan dan cara keluar dari
kesulitan yang melilit. Akan tetapi bukan lantas dengan pertimbangan itu
akhirnya malah tidak ada yang dikerjakan. Semua peluang dan kesempatan
empuk yang tersedia, berlalu dengan begitu saja. Kesalahan
kita selama ini adalah kekurangberanian kita memulai sesuatu yang punya
resiko. Akibatnya kita pasif saja menerima kenyataan pahit ini. Perut
sudah keroncongan tetap tidak mau cari makan, karena takut di tengah
jalan dilanggar kendaraan. Kehormatan sudah dirobek-robek masih tetap
diam, karena takut dibantai orang. "Tidakkah
kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : 'Tahanlah
tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!'
Setelah diwajibkan mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan
munafiq) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah,
bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata : 'Ya Tuhan kami,
mengapa Engkau wajibkan berperang pada kami ? Mengapa tidak Engkau
tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa
waktu lagi ?' Katakanlah : 'Kesenangan di dunia ini hanyalah sebentar
dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu
tidak akan dianiaya sedikitpun." (Q.S. An-Nisa' : 77). Hidup
ini adalah resiko. Jangan hidup kalau takut menghadapi resiko. Jangankan
untuk ber-Islam yang jaminannya surga, orang yang makan saja ada
resikonya. Sering kita dengar gara-gara makan orang meninggal dunia.
Entah karena racun, atau bahkan ada yang terkena isi staples. Bisa jadi
orang mati hanya karena menggaruk-garuk jerawatnya. Orang kejatuhan nasi
bisa juga mati. "Dimana
saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di
dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (Q.S. An-Nisa' : 78). Tiada
kata takut dalam kamus Islam, kecuali mereka yang munafiq. Resiko tetap
menghadang, tidak boleh menghindar. Peras otak untuk terus maju,
mengambil prakarsa setiap pergerakan dan pembaharuan. Sesungguhnya
dengan memulai saja segera bekerja, itu sudah mengundang kekuatan. Ada
jaminan pasti akan segera mendatangkan hansil. Dengan kekuatan itulah
mulai terjadi perubahan yang secara tidak langsung menjinakkan resiko
yang sangat ditakuti.
|
| Daftar Isi |