|
Aqidah RAHASIA KEUMMIYAN MUHAMMAD SAWPOTENSI
DI BALIK KEUMMIYAN Sejak
awal-awal diturunkannya Al Qur'an sudah timbul anggapan dari berbagai
kalangan bahwa ayat-ayat yang dibacakan Nabi Muhammad SAW itu adalah
hasil karyanya sendiri. Namun strategi yang dipasang oleh Allah SWT yang
sengaja meng-ummiy-kan Muhammad sebelum menerima wahyu telah mematahkan
anggapan itu. Ditambah lagi dengan kedalaman makna ayat-ayat yang
dibacakan itu, maka nampak sekali bahwa tiada seorangpun yang mampu
membuat karya seperti itu. Terutama di kalangan sastrawan Arab yang
terkenal, sulit sekali menyangkal bahwa apa yang dibacakan Muhammad itu
adalah sebuah karya raksasa yang tidak mungkin dibuat oleh penyair dan
sastrawan yang bagaimanapun cerdas dan halusnya perasaan yang dimiliki. Surah
demi surah yang turun di Makkah telah membabat habis dan menumpulkan
imajinasi para penyair dan sastrawan yang sekian lama
membangga-banggakan karya-karya sastranya. Mereka sangat terpukul karena
yang memunculkan karya sangat berbobot itu adalah seorang "ummiy",
tidak tahu tulis baca, kendatipun bukan berarti tidak cerdas dan tidak
punya kepekaan yang tinggi. Dengan
keadaan Muhammad yang ummiy memang telah mengundang pertanyaan besar di
kalangan intelektual Arab kala itu. Mengapa bukan tokoh ini dan tokoh
itu yang diangkat sebagai Nabi, kalau memang Nabi yang akan diangkat
Tuhan adalah dari kalangan orang Arab ? Muhammad sangat tidak memenuhi
persyaratan, ditinjau dari segi umur, pengalaman, dan tentu saja ilmu.
Hal itu terjadi karena mereka tidak mengerti bahwa Tuhan-lah yang lebih
tahu persyaratannya, bukan berdasar persepsi dan asumsi yang bersarang
di otak mereka. Dalam
proses perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW memang terlihat sekali hikmah
di balik ke-ummiyan tersebut. Hikmah yang tidak diperoleh dari utak-atik
dan perhitungan 'njlimet'. Hikmah yang hanya didapat dari ummiy itu
semata-mata. Bukankah
karena Muhammad seorang ummiy sehingga otak dan pikirannya tidak terlalu
dominan. Dengan demikian maka rohaninyalah yang paling banyak berperan.
Ini yang menyebabkan wahyu langsung terserap secara utuh dan tergores
tajam ke dalam relung kalbu beliau. Sekiranya
otak beliau sarat dengan ilmu pengetahuan, sempat berkenalan dengan
sekian banyak ideologi dan falsafah hidup, akan lain cerita perjalanan
hhidup beliau. Tidaklah mungkin dapat terwajahi seluruhnya oleh warna
wahyu. Tutur kata, penampilan serta ritme hidup beliau dapat dipastikan
tidak akan seindah seperti yang kita kenal kini, ritme hidup yang
Qur'ani secara utuh. Para
sahabat dan orang-orang yang berada di samping Rasul adalah orang-orang
yang terdidik oleh Rasulullah sendiri. Mereka telah memberi peluang
kepada rohaninya untuk memegang peranan besar dalam hidupnya. Otomatis
tidak memberi kesempatan kepada otak dan pikirannya untuk mendominasi
setiap gerak dan langkahnya. Sikap mereka yang "sami'na wa atha'na"
telah membuktikan hal tersebut. Itulah penyebab mereka mampu mengikuti
perjalanan Rasulullah SAW, mampu menyerap setiap wahyu yang dibacakan.
Mereka telah berhasil meng-ummiy-kan diri. Sehingga tidak merasa
memiliki ilmu sedikitpun jua.
|
| Daftar Isi |