Aqidah

SETELAH AQIDAH TERTANCAP

LAHIR CITA-CITA

Sebelum terlalu jauh kita membahas tentang langkah dan program orang yang sudah beriman, perlu dipertajam ulang bahwa format dan bentuk keberadaan ummat yang dihasilkan oleh syahadat, dapat dilihat pada tumbuhnya dua kesadaran pada diri mereka, yaitu kesadaran akan statusnya sebagai hamba Allah, dan kedudukannya sebagai khalifah-Nya. Dua kesadaran ini kemudian berhasil mereka implementasikan dalam kehidupan keseharian.

Sadar sebagai khalifah berarti sadar akan adanya tugas dan tanggungjawab yang tidak ringan, tetapi sekaligus berarti yakin bahwa dalam dirinya ada potensi luar biasa yang perlu digali dan dimanfaatkan untuk melaksanakan tugasnya yang berat itu.

Sebaliknya, sadar sebagai hamba berarti sadar bahwa dirinya sangat lemah, kapasitasnya sangat terbatas. Mereka sadar bahwa dirinya tergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. 'Laa haula wala quwwata illa billah'. Kesadaran ini menuntut mereka senantiasa berhubungan dengan Allah dan menjaga nama baik di sisi-Nya.

Bila dua kesadaran ini telah tumbuh dalam diri mereka, baru bisa dikatakan bahwa langkah awal sudah berhasil dilewati. Tinggal bagaimana mengarahkan dan menyalurkannya dengan cara memberi tanggung jawab kepadanya. Mereka yang sudah memiliki kesadaran ini harus diberi tugas yang pasti. Sebab kesadaran tersebut adalah potensi.

Selama ini potensi ummat yang sudah memiliki dua kesadaran ini belum tergali. Mereka dibiarkan mengembangkan potensinya secara sendiri-sendiri. Akibatnya, aktifitas yang mereka lakukan bukan merupakan tugas, tapi tidak lebih dari interes pribadi.

Patut disayangkan kalau potensi ini tetap dibiarkan berhamburan. Itulah sebabnya, setelah aqidah tertancap, tuntutan pertama kali adalah membina jama'ah. Dengan berkehidupan jama'ah ini mereka tinggal mendapat order, kemudian menjalankan order itu sesuai dengan skala prioritas yang telah disepakati bersama.

Dengan berjama'ah, distribusi tugas dan tanggungjawab dapat dilaksanakan dengan baik. Tanpa itu 'overlapping' tak dapat dihindari. Lebih jauh lagi, akan terjadi persaingan antar mereka sendiri yang pada hakekatnya merupakan praktek kanibalisme. Terlalu mubazir jadinya. Potensi raksasa yang ada pada diri ummat itu justru akan menjadi malapetaka.

Kesadaran ummat akan tugasnya sebagai khalifatullah di muka bumi mengharusan mereka untuk menggalang kekuatan. Tugas kekhalifahan yang cukup berat ini tidak mungkin dapat dipikulnya sendiri. Mutlak bagi orang yang sudah berkesadaran itu untuk mencari teman dan sahabat yang mau bersama-sama meniti perjalanannya.

Setiap manusia mesti menyadari bahwa kapasitas pribadinya sangat terbatas, kemampuan dan keahliannya penuh dengan kelemahan. Padahal untuk mengangkat tugas kekhalifahan ini disyaratkan untuk memiliki kemampuan yang prima sekaligus keahlian yang sempurna. Kenapa ? Tugas khalifah adalah mewakili Allah yang Maha Sempurna, dalam mengelola alam ini. Tak mungkin kita bisa mewakili-Nya dalam kondisi yang kedodoran dengan kemampuan yang memalukan.

Hanya dengan berjama'ah keahlian dan kemampuan itu dapat tertata secara sempurna. Sebab setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Dengan berjama'ah kelebihan-kelebihan itu dapat disentralisir menjadi kelebihan yang sempurna. Dan kelemahanpun dapat dinetralisir sedemikian rupa.

 

Daftar Isi