|
Aqidah TINGGAL LANDAS AQIDAHTIGA
TIANG UTAMA Sebagai
tindak lanjut dari proses pemantapan eksistensi diri yang diidealkan
oleh syahadat adalah tersusunnya suatu kekuatan. Bagaimanapun sebagai
khalifah, tak mungkin hanya berdiam diri melihat keadaan tetap seperti
sekarang ini. Dengan syahadat tersulut idealitas, terbakar semangat
juang, dan tergerak untuk melangkah membuat perubahan-perubahan. Kepekaan
yang ditimbulkan oleh syahadat menuntut mereka untuk segera tanggap dan
tampil membela kepentingan ummat. Mereka tak akan puas melihat ummat
berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Tergeraklah hatinya untuk
mengadakan perubahan-perubahan. "Barang
siapa yang acuh terhadap urusan ummat Islam, maka mereka bukan termasuk
ummatku". "Barang
siapa melihat kemungkaran maka hendaklah mereka mengubahnya dengan
tangannya. Kalau tidak mampu, maka hendaklah mengubah dengan lisannya.
Kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan hatinya. Adapun yang
demikian itu selemah-lemah iman". Dalam hadits yang lain juga
disebutkan : "Mukmin yang
kuat itu lebih disukai (Allah) daripada mukmin yang lemah". Dari
beberapa keterangan hadits yang dikemukakan di atas telah gamblang bahwa
orang yang telah ber-Islam tak akan berdiam diri. Ada tuntutan dalam
dirinya untuk mengubah kondisi masyarakat agar menjadi lebih baik. Untuk
mengubah masyarakat menjadi yang ideal tidak cukup hanya mengandalkan
semangat saja, tapi dibutuhkan kekuatan. Kekuatan apa saja. Lebih kuat
sesorang lebih banyak yang bisa dijangkau, lebih banyak sasaran yang
dapat dicapai. Dengan demikian, mereka akan lebih dicintai oleh Allah.
Ini yang terpenting. "Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi
dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan
itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang yang selain
mereka yang kamu tidak mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak
akan dianiaya." (Q.S. Al-Anfal : 60) Tentu
saja dalam hal ini tidak berarti bahwa Islam itu harus disebarkan dengan
paksa, dengan pengerahan kekuatan fisik. Ajaran Islam tidak mengenal hal
ini. Kekuatan yang dimaksudkan di sini mencakup tiga hal : 1.
Kekuatan yang terletak pada keunggulan konsep, kesempurnaannya yang
mencakup semua sektor kehidupan, daya tahannya yang telah dan akan diuji
serta disaksikan oleh sejarah. Berhasil selalu tampil tetap relevan pada
setiap situasi, menunjukkan bukan saja logis dan rasional, sehat dan
tetap waras, bahkan sesungguhya lebih dari itu semua. Tinggal kemampuan
pendukungnya menerjemahkannya di lapangan berupa amalan dan karya nyata
yang menyejukkan dan pemecahan konsepsional yang diperlukan. 2.
Kekuatan yang terletak pada tuntutan kemampuan untuk memperlihatkan
keunggulan pada sektor ekonomi terutama, disamping sektor lainnya, yang
penuh nilai tambah. Hal itu diperlukan guna melepaskan diri dari jebakan
ketergantungan yang mengurangi dan merampas kemerdekaan yang justru
telah diproklamasikan lewat wahyu pertama. Disamping untuk menunjukkan
kemampuan melangkah dan berbuat lebih banyak serta lebih jauh dalam
upaya membuktikan kebenaran yang ditawarkannya, sampai dukungan kekuatan
politik yang meyakinkan. 3.
Kekuatan yang terletak pada nilai serta kualitas moral manusia yang
menjadi pendukung dan personil yang mentenagai missi ini. Pada saat hal
tersebut langka akibat badai dekadensi moral yang melanda kehidupan
dunia, hendaknya tidak bosan-bosannya menempa diri hingga nampak
identitas indikasi pribadi seorang muslim, yang secara jujur sesungguhya
diakui hati kecil setiap orang, sebagai wujud manusia yang masih utuh.
Tinggal bagaimana memanfaatkan posisi dan potensi tersebut sehingga
mendatangkan hasil dan produksi strategis yang lebih menguntungkan missi. Dengan
tiga kekuatan itulah sesungguhnya terjamin kelangsungan missi kebenaran
Islam ini sampai terbuka kemungkinan untuk tampil sekali lagi mewarnai
kehidupan manusia di seluruh dunia, seperti yang dijanjikan Allah SWT. Manakala
ketiga kekuatan tersebut tidak dimiliki, yakinlah ummat Islam akan
selalu menyedihkan bahkan mengerikan dan akhirnya memalukan. Hanya
dengan ketiganya ummat Islam bisa dikatakan memiliki kekuatan. Dan hanya
kekuatan itulah yang memungkinkan ummat Islam bisa memainkan peranan
lebih berarti di dalam memberi kontribusi mengatasi pelbagai macam
kemelut yang dihadapi dunia sekarang ini. Sebaliknya
kalau ummat Islam tidak memiliki ketiga kekuatan tersebut, justru
kemelut ke dalam dirinya terus meningkat dan selanjutnya memperbesar
kemelut yang sudah ada, membuat dunia semakin kacau saja jadinya.
|
| Daftar isi |