MEMBERANTAS PERDUKUNAN

 

Tambah satu lagi tokoh sadis Indonesia. Beberapa hari sebelum Oki divonis hukuman mati, seorang lelaki bernama Ahmad Suraji alias Nasib Kelewang alias Datuk, 47 tahun mengaku telah membantai 42 dari 70 wanita yang ditargetkan. Karuan saja bila masyarakat geger.

Pria pengidap psikopat ini telah membantai korban-korbannya dengan motif ingin menajamkan ilmu perdukunannya. Selama ini ia memang dikenal sebagai dukun yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tidak sedikit pasien yang datang ke rumahnya. Ada yang ingin dagangannya laris, ada yang ingin mendapat pengasihan agar kelihatan lebih cantik, ada juga yang ingin berobat dari sakitnya.

Sebagaimana pengakuan Datuk sadis ini, ilmu perdukunannya diwarisi dari orang tuanya. Hanya saja untuk mengasahnya diperlukan syarat. Kali ini yang menjadi syarat adalah membunuh 70 wanita. Para korbannya dikubur setengah badan kemudian disiksa hingga mati, setelah itu diisap liurnya, untuk seterusnya dikubur. Betul-betul sadis.

Menurut pengakuan pembunuh darah dingin ini, perbuatannya tidak dilakukan seorang diri, melainkan dibantu istri pertamanya. Sedangkan istri kedua dan ketiga, yang merupakan saudara kandung tidak dilibatkan. Begitu rapi dan sistematik cara kerja mereka, sehingga masyarakat tidak mencium gelagat jahatnya.

Berita tentang kejahatan para dukun ini sudah sangat sering dilansir media cetak dan elektronik, mulai dari penipuan, penggelapan, penodaan seksual, sampai pada penyiksaan hingga pembunuhan. Akan tetapi, berita-berita tersebut tidak menyurutkan langkah masyarakat untuk memnggunakan jasa perdukunan.

Bersamaan dengan terungkapnya kasus ini di Bekasi terjadi peristiwa yang sama. Seorang dukun bernama Miranto dicokok polisi dengan tuduhan karena kelalaiannya sehingga mengakibatkan dua pasiennya meninggal dunia.

Nama Miranto yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit jiwa ini tiba-tiba saja tenar setelah koran lokal memuat berita bahwa ia adalah dukun yang berhasil menyembuhkan orang yang sakit jiwa. Karuan saja banyak orang yang datang ke rumah prakteknya. Dua diantaranya adalah Heru dan Cucun, yang akhirnya menjadi korbannya. Menurut pengakuan orang tuanya, cara pengobatan Miranto ini tergolong aneh. Pasiennya dibungkus kain kafan dan dibiarkan meronta hingga tiga hari lamanya. Sudah bisa diduga sebelumnya, para korbannya lemas dan akhirnya mati.

Entah sudah berapa orang yang menjadi korban dari praktek-praktek perdukunan ini. Akan tetapi dalam kenyataannya, masyarakat yang sudah terlanjur teracuni cara berfikir irrasional ini tetap saja pada keyakinannya. Mereka tetap percaya dan menggunakan jasa-jasa dukun tersebut.

Tidak saja kalangan bawah yang percaya pada praktek perdukunan ini, bahkan kalangan atas, termasuk pejabat tinggi negara juga sering terlibat di dalamnya. Tidak kalah menariknya, bahwa di dunia persepak bolaan kita juga terjadi hal yang sama. Sepak bola yang selalu kalah itu ternyata dibecking oleh para dukun. Mereka menyebut para dukun itu sebagai faktor non tehnis yang ikut menentukan kalah menangnya suatu pertandingan.

Sudah menjadi rahasia umum jika banyak para pejabat yang mempunyai pelanggan khusus untuk menkonsultasikan nasibnya kepada "orang pintar". Bahkan untuk suau kunjungan resmi sekalipun, mereka masih menggunakan jasa dukun-dukun ini. Mereka seakan tidak berani melangkah tanpa kepastian akan nasib dari hasil ramalannya.

Dalam kaitan ini Rasulullah besabda: "Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan mujur-sial, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, apakah penebusnya, ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ucapkanlah, Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, dan tiada kesialan kecuali yang Engkau timpakan, dan tiada Tuhan kecuali Engkau." (HR. Ahmad)

Sungguh aneh, di saat bangsa Indonesi sudah bisa membikin pesawat terbang, ternyata masih banyak di antara mereka yang berfikir irasional. Contohnya, untuk meluncurkan suatu produk baru mereka masih harus menaburkan kembang. Demikian juga kebiasaan melarung sesaji. Contoh yang paling gres adalah ketika peletakan batu pertama dalam pembangunan jalan tol, ternyata masih harus dengan menanam kepala kerbau.

Jika para pejabat dan tokoh masyarakat masih melakukan hal tersebut, maka hal ini sama saja dengan mengajari masyarakat untuk berfikir irrasional. Hal ini sama sekali bertentangan dengan tujuan pendidikan, yang hendak mencerdaskan kehidupan bangsa. Praktek-praktek di atas bukan mencerdaskan, tapi menumpulkan otak dan pikiran ummat.

Sebagai bangsa yang meniti jalan menuju kemajuan semestinya sudah harus meninggalkan tradisi yang merusak cara berbifir rasional. Sangat ironis, di jaman yang modern ini ternyata kita masih sangat terbelakang. Bukan saja orang awam, tapi orang-orang yang sudah mengeyam pendidikan tinggi sekalipun masih datang ke dukun.

Sebelum datangnya fajar Islam, praktek perdukunan ini sangat marak di masyarakat. Mereka sangat percaya kepada para kahin dan peramal. Mereka juga tidak bosan-bosannya memberi sesaji pada apa saja yang dianggap keramat. Karena berfikirnya yang tidak rasional ini, Rasulullah memberi cap mereka sebagai masyarakat jahiliyah, bodoh.

Disebut jahiliyah atau bodoh bukan saja karena mereka tidak melek huruf, tapi lebih pada aqidah dan keyakinannya yang menyimpang. Selain menyembah berhala, tuhan bikinannya sendiri, juga gemar pergi ke dukun dan peramal. Missi utama Islam adalah membebaskan ummat dari kebodohan seperti ini.

Uasaha pembebasan itu ditempuh Rasulullah dengan berbagai cara, mulai dari da'wah bil lisan, bil hal, bahkan sampai perang. Perseteruan Rasulullah dengan masyarakat jahiliyah ini berjalan seru sepanjang hidup. Bahkan kerap terjadi perang yang banyak menelan korban. Akhrinya fajar Islam datang, kejahiliyahan dilenyapkan.

Seperti kebatilan lainnya, kepercayaan jahiliyah ini tidak bisa lenyap sama sekali. Sesekali bercokol bahkan menguat menjadi tradisi masyarakat. Karenanya perang terhadap kejahiliyaan ini harus dilakukan sepanjang masa.

Para pemuka agama -- Ulama', cendekiawan, tokoh mayarakat-- hendaknya menggencarkan da'wah di bidang aqidah. Ummat Islam hendaknya memperoleh keterangan dan ilmu yang pasti tentang aqodah dan keyakinannya sehingga mereka tidak menyimpang. Ummat hendaknya diajak berfikir rasional, sebab missi agama sesungguhnya adalah untuk ini.

Lebih penting lagi adalah pemerintah. Jika ingin bangsa ini maju meninggalkan keterbelakangan, maka yang diubah terlebih dahulu adalah cara berfikir yang tidak rasional ini. Selama masyarakat kita masih belum bebas dari penyakit ini, bangsa ini tak akan pernah maju.

Karenanya pemerintah harus tegas mengawasi dan menindak siapa saja yang berbuat aneh, dengan praktek-praktek perdukunan yang tidak rasional ini. Hukum dan perundang-undangan hendaknya juga mengatur masalah ini, sehingga kepada para pelanggarnya bisa diberi sangsi hukum yang tegas. Selama ini belum pernah ada sangsi kepada para dukun dan peramal, padahal mereka jelas-jelas membodohi masyarakat.

Koran dan media massa lainnya hendaknya tidak ceroboh dengan menampilkan orang-orang yang berhasil menyembuhkan penyakit dengan praktek-praktek irrasional. Selama belum ada penelitian ilmiah, hendaknya pemuatan berita seperti ini dibatasi. Peran media masaa dalam menciptakan keyakinan seperti ini sangat besar. Horoscop, Hongsuinipun, ramalan bintang dan yang sejenisnya harusnya dienyahkan dari halaman-halaman koran. Yang seperti ini sama sekali tidak mendidik, bahkan merusak.

Islam sangat tegas melarang segala perbuatan yang menjurus pada menusyrikan. Dunia perdukunan, ramalan, jampi-jampi, dan senejisnya sangat ditentang Islam. Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan ercaya kepada ucapannya, maka berarti dia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad saw (agama Islam)." (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya pengobatan dengan mantera-mantera, kalung gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik." (HR. Ibnu Majah)

Jika ada orang Islam yang masih percaya pada dukun, peramal, dan sebangsanya, maka shalat mereka selama 40 hari tidak akan diterima Allah. Rasulullah bersabda: "Barangsiap mendatangi dukun ramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya selama empat puluh hari tidak akan diterima." (HR. Muslim)

Dari berbagai keterangan ini, tidak ada kata penutup yang paling tepat kecuali kita nyatakan perang kepada setiap kemusyrikan. Kita berantans perdukunan. Allahu Akbar.

 

Daftar Isi