Menghidupkan Wahyu Tuhan

 

Dalam menapaki kehidupan di alam yang fana ini, perlu adanya petunjuk jalan, agar dapat selamat. Tanpa itu, jangan harap akan mulus dalam perjalanan. Hidup tanpa petunjuk, ibarat meraba-raba dalam gelap. Apa yang diharapkan oleh mereka yang dirundung kegelapan? Tiada lain dari datangnya cahaya.

Allah swt menurunkan al-Qur'an kepada manusia lewat Rasulullah untuk memberikan petunjuk dan bimbingan menuju jalan kebenaran. Rasul adalah pembawa cahaya yang terang-benderang yang mengeluarkan manusia dari kegelapan. Membawa berita gembira dan penjelasan, dan pengantar manusia pada jalan Tuhan. Allah berfirman:

"Alif-lam-ra. (Inilah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 1)

Sejarah telah membuktikan kemampuan al-Qur'an dalam membimbing manusia menuju jalan lurus dan terang itu. Bimbingan al-Qur'an telah menyelamatkan manusia dari kesesatan, kehinaan dan kenistaan, untuk menggapai kebahagiaan dana kemuliaan.

Pada zaman jahiliyah kuno, ummat manusia sesaat berada di salah satu puncak kemerosotan akhlak. Dekadenssi moral merebak ke seluruh belahan bumi. Kerusakan telah terjadi di mana-mana. Peradaban manusia berada di titik kehancuran paling rendah. Nilai-nilai kemanusiaan tertimbun dalam lumpur keangkaramurkaan. Yang dominan dan mengendalikan keadaan adalah keserakahan nafsu dan naluri hewan.

Dalam kondisi seperti demikian, Al-Qur'an diturunkan untuk menyelamatkan manusia yang sedang dikuasai syetan. Menerangi jalan gelap yang penuh dengan perangkap. Membasahi ruh yang kekeringan. Menumbuhkembangkan peranan hati nurani yang lama tertimbun gumpalan-gumpalan kesalahan dan membangkitkan jiwa suci yang telah terjajah oleh agresor ulung iblis dan pasukannya.

Dengan kalimat-kalimat dan ayat-ayat Tuhan, ummat manusia terselamatkan dari kebinasaan dan kesengsaraan di hari pembalasan. Lewat utusan-Nya yang mulia, Rasulullah saw, ummat manusia diantar meraih kebahagiaan dan kemuliaan.

Bila al-Qur'an dijadikan pegangan, kesusahan hati terobatkan, kegalauan jiwa tersembuhkan. Hati pun menjadi tenang, damai penuh kesejukan. Problema yang ada pun mudah dipecahkan. Tak ada beban berat dalam menjalani ninamika kehidupan bila al-Qur'an dijadikan rujukan. Semua persoalan manusia terjawab.

Tetapi ternyata seiring dengan semakin banyaknya jumlah manusia, jumlah mereka yang mengabaikan rambu-rambu al-Qur'an juga semakin banyak. Bahkan ada kesan mereka tidak mau kenal sama sekali dengan pedoman hidup yang indah ini. Akibatnya, timbul berbagai ketimpangan yang mendorong kepada kehancuran. Keseimbangan alam terganggung oleh gaung peperangan demi kepuasan nafsu. Mereka memandang dunia dengan cara yang salah, lalu mengajak dan memaksa orang lain mengikuti cara pandang itu dengan iming-iming dunia. Syukurlah bahwa masih ada kelompok manusia yang tetap istiqamah memegang petunjuk Allah sehingga kehancuran total dunia ini masih sempat tertunda waktu kedatangannya.

Bagaimana menjadikan al-Qur'an itu bisa hidup dan mewarnai perilaku kehidupan? Bagaimana membentuk wahyu Allah itu menjadi ruh yang bisa menggetarkan hati dan menggerakkan jiwa bagi yang mendengarkan, kemudian mengubah sikap dan sifat manusia yang didominasi nafsu dan syetan? Bagaimana mengkondisikan al-Qur'an agar bisa menyadarkan jiwa yang jauh dari peran serta Tuhan, mengembalikan fitrah manusia yang terlupakan? Inilah beberapa pertanyaan yang mesti dijawab oleh ummat Islam modern sebagai bukti kesungguhannya hendak melestarikan dan menerangi dunia dengan firman Tuhan.

Pada diri para as-saabiquunal-awwalun, para pemula pemeluk Islam, terlihat al-Qur'an itu hidup dan berkembang. Menggetarkan jiwanya, menghidupkan ruhnya. Di setiap wahyu turun, serta-merta mereka lakukan apa yang diperintahkan kalam Tuhan. Dan mereka tinggalkan yang dilarang dengan segera tanpa penawaran. Segala perintah dan larangan tanpa pikir pajang mereka laksanakan. Ini menunjukkan wahyu itu hidup. Wahyu itu menjadi ruh yang bisa menghidupkan dan menggerakkan.

Ketika perintah berinfaq turun, para sahabat berlomba-lomba menginfaqkan hartanya. Bahkan ada yang menyerahkan seluruh hartanya seperti Abu Bakar, atau setengahnya seperti Umar bin Khatthab. Dan ada yang sebagian seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Demikian juga sahabat yang lain tidak ketinggalan berlomba mengamalkan ayat ini.

Ketika larangan berjudi dan meminum khamar tiba, semua sahabat menjauhi dan meninggalkannya. Mereka berhenti bermaian judi dan menumpahkan beratus-ratus liter khamr ke jalanan. Segala bentuk barang yang memabukkan juga mereka buang.

Perintah yang berat pun mereka laksanakan dan disambut dengan penuh antusias. Perintah perang, misalnya, mereka laksanakan dengan gembira, bahkan dianggap sebagai rekreasi dan jalan pintas menuju surga.

Padahal perintah itu akan banyak mengorbankan harta jiwa, bahkan keluarga. Namun demikian mereka tidak tergoyahkan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Mereka telah membuktikan, wahyu menjadi penggerak jiwanya yang paling dalam. Dapat mengatur langkah-lanagkah mereka dalam menapaki kehidupan.

Jalan kehidupan dan perilaku para sahabaat Rasulullah saw sejalan dengan yang diinginkan wahyu. Tindak-tanduknya sesuai dengan ayat-ayat Qur'an yang dibacakan kepadanya. Mereka tanpa reserve mentaatinya, sehingga al-Qur'an hidup dan berjalan dalam dirinya.

Bila para sahabat Rasul telah membuktikan pengaruh kekuatan wahyu, bagaimana dengan ummat Islam sekarang yang sama-sama mendengar dan membaca wahyu? Padahal isi wahyu itu sama, baik titik maupun komanya? Adakah pengaruh wahyu itu? Sudahkah wahyu itu menjadi ruh yang menghidupkan dan menggerakkan mereka? Sudahkan tingkah laku dan keperibadian mereka dijiwai nilai-nilai Qur'an dalam hidup bermasyarakan dan bernegara?

Dengan jujur kita menjawab, masih sedikit sekali. Indikasinya, masih banyak di antara ummat Islam yang belum shalat, tidak berpuasa dan membayar zakat. Masih banyak saudara-saudara kita yang mengaku muslim, tapi gemar berjudi, berzina, dan mencuri. Yang di kantor asyik dengan kolusi dan korupsi.

Jelaslah, wahyu yang dibaca dan didengar, masih sebatas untuk bahan konsumsi otak. Firman Tuhan sebatas dijadikan bahan ceramah, seminar, simposium, diskusi panel ataupun perdebatan-perdebatan. Banyak orang membicarakan Islam. Buku-buku tentang kehebatan al-Qur'an, kemukjizatan dan pertolongan Tuhan, juga begitu banyaknya. Cerita tentang keindahan syari'at-syari'at Islam dan sejarahnya tidak sedikit. Namun berapa yang menjalankan Qur'an, mentaati perintah dan larangannya? Apalagi yang sampai mau menegakkannya sebagai suatu cita-cita hidupnya?

Padahal dengan menghidupkan wahyu di dalam dada ummat Islam, akan ada dampak yang sangat besar. Pengaruhnya teramat luar biasa. Segala persoalan yang melilit kehidupan akan terpecahkan dengan hasil baik.

Bila al-Qur'an dijadikan pedoman, kerinduan akan kembalinya kejayaan Islam bukan lagi angan-angan. Satu perintah ditegakkan akan membawa dampak yang tidak kecil bagi lingkungan. Misalnya soal larangan berjudi atau berzina. Bukankah masyarakat akan hidup tenteram tanpa dua hal itu? Apalagi bila bukan sekadar satu, tetapi yang enam ribu ayat lebih itu dilaksanakan semua. Tentu gaung wahyu akan sangat terasa. Masyarakat menjadi demam wahyu. Di mana-mana keadaan akan dikendalikan oleh kehidupan berwahyu. Kehidupan nafsu praktis akan tersingkir karenanya. Bumi kita tidak akan semakin panas saja karena merindukan hadirnya orang-orang yang membekali dirinya dengan wahyu, untuk menyiraminya dari musibah.

Ummat Islamlah yang punya tanggung jawab ini; membacanya berulang-ulang, mengartikan dan merenunginya, mendalami dan menggali makna-makna kandungan wahyu Allah. Dengan kebersihan hati, kesabaran dan ketekunan, Insya Allah hati akan tergerak sedikit demi sedikit menjalankan isi al-Qur'an. Dan ini suatu tanda bahwa al-Qur'an sudah mulai 'hidup'.

 

Daftar Isi