|
Pengungsi,
Ke Mana Harus Kembali? Menjadi
pengungsi karena rumahnya kebanjiran, masih termasuk lumayan, karena
dapat dipastikan sebentar saja air akan surut. Kerusakan-kerusakan yang
terjadi bisa diperbaiki kemudian, dan yang lebih penting, hak milik
tanah tidak hilang, nyawa juga tidak terancam. Tetapi
menjadi pengungsi karena kampung halamannya dilanda perang, seperti apa
rasanya? Yang menyedihkan, ternyata hingga zaman modern ini, jumlah
pengungsi karena kasus peperangan atau pertikaian, masih jutaan orang.
Titik-titik yang rawan peperangan bukan hanya sekitar Kabul di
Afghanistan dan Palestina di Timur Tengah, tetapi hingga wilayah-wilayah
yang sepertinya tidak terduga sama sekali. Misalnya, di sahara
Mauritania, tanah kering yang bagian teduhnya saja bersuhu 45 derajad
Celcius! Di sini ada pengungsi (tentu saja muslim) dari Mali. Tak
perlu mencibir menganggap pengungsi itu tak punya keberanian hidup.
Sebab kebanyakan yang melakukan adalah kaum wanita. Mereka perlu
keselamatan, sekaligus melindungi anak-anaknya. Dan bila istri dan
anak-anaknya berangkat, tentu suami tidak akan melepaskannya demikian
saja. Mereka harus menyertai sepanjang perjalanan. Apakah
yang bisa mereka lakukan di pengungsian? Sekadar bertahan hidup. Sebab
mereka juga tidak akan mendapatkan hak memiliki kecuali harus beli.
Sementara biasanya kedatangannya tanpa bekal yang memadai, lantaran yang
dipentingkan hanya keselamatan jiwa. Kaum muslim dari Arakan di Burma
barat, mengungsi ke Bangladesh tanpa bekal apa-apa. Padahal di kampung
halaman, rumah mereka telah dijarah atau dibakar pasukan Burma. Kini
delapan puluh persen dari setengah juta pengungsi itu telah kembali.
Tetapi tak jauh beda dengan di pengungsian, mereka harus memulai hidup
dari nol. Sementara untuk menolak pulang juga tidak mungkin, karena
mereka hanya menumpang di negeri orang, tanpa pekerjaan jelas yang bisa
menghasilkan cukup uang. Pengungsi
Bosnia, kini menyebar di seantero Eropa dan dunia. Demikian juga yang
dari Kashmir, Sri Lanka, Liberia, Aljazair, Afghanistan, Mexico, dan
lain sebagainya. Satu hal yang patut direnungkan, kasus seperti
pengungsi itu bisa menimpa siapa saja! Bayangkan penduduk Sarajevo yang
sama sekali tidak menduga, tiba-tiba harus mengungsi dan terlunta-lunta.
Jadi sepanjang belum terjadi, sebisa mungkin diantisipasi segala
kemungkinan yang mengarah ke sana, dan dicegah terjadinya konflik yang
merugikan semua pihak itu.
|
| Daftar Isi |