Aqidah

PERJALANAN QUR'ANIK

 

KITA HARUS MENGAKUI BAHWA SEJAK ABAD VII SAMPAI ABAD XV HIJRIYAH SAAT INI, BELUM PERNAH MUNCUL PEMIKIR DAN KONSEPTOR YANG MAMPU MENYODORKAN ISLAM SECARA UTUH

Akhir-akhir ini masyarakat manusia di seluruh dunia diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang sudah sampai pada titik klimaks, karena bayangan kengerian akan terjadinya malapetaka dan musibah yang amat dahsyat yang sepertinya tidak bisa lagi dielakkan.

Keterbatasan bumi dalam menampung ledakan penduduk yang luar biasa perkembangannya, yang terlalu cepat temponya akan mengakibatkan bencana yang cukup serius. Makanan tidak lagi bisa mencukupi kebutuhan manusia, air bersih yang akan terus berkurang, polusi udara yang semaikin menjadi-jadi akan mencapai titik malapetaka yang luar biasa. Apalagi pada tahun-tahun yang akan datang, menurut perkiraan beberapa ahli, hutan di seluruh negara-negara berkembang akan habis sama sekali disebabkan kebutuhan manusia akan kayu akan terus meningkat, ditunjang oleh ambisi negara-negara berkembang tadi untuk mengejar pembangunan negerinya untuk membayar hutang-hutangnya akan semakin mempercepat kerusakan itu, sedangkan untuk merehabilitasi hutan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kalu hal ini benar-benar terjadi bukankah itu kiamat dunia. Bukankah peristiwa akhir-akhir ini menunjukkan gejala kiamat ? Sebab bukan saja kerusakan yang sudah dipaparkan di atas saja yang sudah mulai menggejala, akan tetapi malapetaka itu semakin dipercepat dengan produksi persenjataan yang semakin menggila.

Negara-negara super power sekarang ini telah berhasil memproduksi senjata yang mempunyai daya ledak ssatu jta kali lebih dahsyat daripada bom atom yang pernah diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Pada saat ini juga sudah berhasil dirakit ramuan kimiawi yang apabila diledakkan tidak satupun gedung yang roboh, akan tetapi manusia secara perlahan-lahan teracuni dan akhirnya mati. Saat ini manusia juga sudah menemukan satu bahan perusak yang apabila diledakkan tidak satupun manusia yang mati, akan tetapi otak dan syarafnya tidak lagi bisa berfungsi, akal dan fikirannya tidak lagi berperasaan sebagai manusia waras, akan tetapi berubah fungsi menjadi binatang.

Dapat kita bayangkan kalau hal ini betul-betul terjadi, apa artinya hidup manuisa ini ? Masing-masing manusia, baik yang terlibat maupun yang tidak sama-sama ngeri, sama-sama takut melihat senjata ini. Itulah sebabnya mereka selalu mendakan perjanjian-perjanjian bagaimana supaya perang dunia ketiga tidak sampai terjadi. Akan tetapi dasar manusia kalau sudah terpancing emosinya, demi ambisi dan interes nasionalnya akan meledak juga malapetaka itu nantinya. Kalau sudah demikian maka cerita abad XXI tidak akan ada lagi.

Manusia kini sudah sedemikian rusak, bejat, sadis, kejam, serakah, penuh rasa benci dan dendam, penuh kedengkian dan permusuhan, mereka didorong dan dipaksakan untuk mengangkat senjata dan melakukan perang. Mereka berlomba membuat senjata dan alat pembunuh dengan berbagai bentuk dan jenisnya, yang mempunyai daya bunuh luar biasa hebatnya.

Situasi ini memang sudah sangat mengerikan, tetapi manusia tidak menemukan jalan untuk mencegahnya, bahkan sebaliknya yang dialkukan orang sekarang hanyalah semakin mengobarkan api peperangan, kendati dengan alasan untuk pencegahan.

Dengan dasar itu, maka di penghujung abad XX ini kita ditantang dunia untuk tampil memperankan Islam sebagai agama yang paling berkompeten bicara tentang pengisian abad XXI untuk menyelamatkan kehidupan manusia kini yang terus menerus berada dalam bayangan kengerian, kegelisahan, dan ancaman.

Betapapun sedikitnya jumlah kita dan betapapun bodohnya kita, sudah saatnya kini bagi kita menyodorkan resep dan konsep pemecahan terhadap krisis dunia sekarang. Ratapan dan harapan ummat harus segera kita jawab dengan mendemonstrasikan dan menampilkan Islam secara meyakinkan.

Apakah selama ini Islam tidak pernah ditampilkan sebagai jawaban terhadap problema dan kemelut dunia ? Kita harus jujur mengakui bahwa sejak abad VII sampai abad XV Hijriyah ini belum pernah muncul pemikir dan konseptor yang mampu menyodorkan Islam secara utuh. Hal ini disampaikan bukan bermaksud mengecilkan arti pemimpin-pemimpin kita, tokoh-tokoh, filosof-filosof kita, tetapi jangan sampai kita terpukau palagi terpaku dengan kehadiran beliau-beliau itu sehingga seluruh waktu dan kesempatan kita habis hanya untuk mengagumi mereka saja yang berakibat kita selalu merasa kecil, merasa kerdil, kotor, jelek, tidak dapat berbuat apa-apa. Mental seperti ini harus segera kita buang, karena manakala tetap bersarang pada diri kita, tidak mungkin tumbuh dalam diri kita perasaan mampu membawakan Islam ini sebagaimana mestinya.

Kita harus sadari Ulama-ulama kita mempelajari dan mendalami Islam hanya secara parsial. Termasuk di dalamnya Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Syafi'i, yang dikenal sebagai ulama fukoha, yang telah berhasil mengkodifikasi hadits-hadits syari'ah, seperti dalam kitab Al-Muathoq-nya Imam Maliki, Kitab Al-Umm-nya Imam Syafi'i dll. Mereka belum mampu menyodorkan konsepsi Islam secara utuh, pemikiran yang mendasar dan konsepsional serta kontekstual yang merupakan kerangka pola perbaikan terhadap kemelut dunia.

Kita juga mengenal Imam Al-Ghazali, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Ali Jinah, Muhammad Iqbal dll. Beliau-beliau ini tidak lebih dari seorang politikus. Ibnu Taimiyah dan Jamaluddin Al-Afghani adalah penyulut kebangkitan Islam yang belum sempat menghidangkan konsepsi yang utuh. Al-Ghazali cenderung sebagai filosof yang sudah sampai pada tingkat Wali. Baliau lebih banyak memikirkan tentang keselamatan diri. Beliau juga tidak menyodorkan konsepsi yang mendasar yang dapat dijadikan pedoman dalam mengatasi kemelut dunia ini. Di dalam buku Ihya 'Ulumuddin, kita hanya diantar untuk menjadi seorang sufi.

Al-Farabi, demikian juga halnya. Beliau berhasil mencungkil ajaran Islam hanya secabik, sekeping, yaitu ajaran tentang ekonomi yang kalau mau dijadikan pedoman mengatasi perekonomian dunia sekarang ini sudah jauh ketinggalan.

Pada umumnya orang yang kita kenal sebagai tokoh Islam hanya menyentuh satu bidang tertentu dari ajaran Islam. Bahkan diantara mereka ada yang muncul dengan ledakan-ledakan tak menentu sebagai manifestasi rasa frustasi di dalam menunggu Islam ini jaya, namun tak kunjung-kunjung terwujud. Korban-korbanpun berjatuhan tanpa didukung konsepsi perjuangan Islam yang jelas.

Di Indonesia kita kenal sekian banyak tokoh Islam, tetapi pertanyaan yang selalu sulit dijawab adalah apa konsep dan pemikiran beliau yang menggambarkan Islam secara utuh.

Beberapa tahun terakhir ini, pemikir-pemikir muda bermunculan di tanah air kita ini, tetapi tetap saja sama keadaannya, tiada jawaban pasti terhadap problema yang sedang dihadapi ummat Islam dewasa ini.

Hal ini memang sangat memprihatinkan. Kita ngeri membayangkan betapa jadinya nanti kalau keadaan ini berlarut-larut. Nafas dan kehidupan kita senantiasa berada dalam sekarat, lapar dan dahaga terhadap nilai-nilai yang bisa menguak cakrawala kehidupan yang cerah di masa datang tetap saja mengusik kita.

Dalam pertemuan dengan beberapa tokoh Islam, kami sempat menyampaikan kepada beliau-beliau bahwa keadaan seperti sekarang ini tidak boleh kita biarkan berlarut-larut. Kepada beliau kami menitipkan harapan agar dapat sehera memberi jawaban pasti terhadap kemelut yang sedang dihadapi ummat kini, utamanya di dalam dunia pendidikan.

Jawaban yang disampaikan oleh beiau, masalah ini sedang diproses. Mendengar jawaban ini, di dalam hati tersimbul suatu perasaan bangga karena sudah dalam proses, tetapi di balik itu timbul juga perasaan prihatin, sebab sudah sekian lama kita melaksanakan pendidikan Islam, sekian banyak sarjana ditelorkan oleh perguruan tinggi Islam, namun sistem pendidikan yang diaharapkan dapat memberi jawaban terhadap kemelut dunia kini baru diproses.

Melalui penjelasan yang dikemukakan oleh beberapa tokoh dan pemikir kita, baik melalui tulisan maupun ceramah-ceramah, konsep pendidikan seperti yang diinginkan masih belum ada, masih sementara diproses. Hitung punya hitung proses ini memerlukan 28 tahun untuk masa eksperimen, barulah dapat dievaluasi. Siapa yang akan menekuni pekerjaan ini ? Siapa yang bersedia berkurban tenaga, fikiran, dan kesempatan untuk itu ?

Memang kita terundang untuk pesimis dalam memikirkan hal ini, karena kita sudah ingin sekali melihat Islam ini jaya kembali, kita terkenang kembali di kala Islam membudaya dan merasuk ke dalam tulang sumsum pergaulan manusia di dunia internasional, di kala memiliki istana yang megah dan anggun. Kainginan untuk mencicipi kejayaan itu cukup besar, sehingga bila hal itu diungkapkan kita langsung terangsang, timbul gairah untuk menemukannya kembali. Dari balik relung jiwa kita keluar lagu kapan kejayaan itu kita nikmati. Itulah nyanyian, ratapan dan harapan kita setiap saat, sementara jalan menuju ke sana nampaknya masih penuh kabut dan awan.

Hingga sekarang ini belum ada yang mau dan mampu tampil menjadi guide dan interpreter yang menghantarkan kita pada apa yang kita rindukan. Kita hanya saling menunggu antara satu dan yang lain.

Barangkali sudah saatnya kini kita merubah pola pikir kita. Sudah bukan saatnya lagi kita hanya tinggal bersandar di kursi reot mengenang masa jaya Islam di masa silam. Tidak perlu lagi terlalu bangga dengan kemegahan Istana Cordova dan Granada, kecemerlangan budaya Islam yang berpusat di tepi Sungai Tigris, Baghdad. Kita cukup menarik hikmah dan pelajaran berharga dari kejayaan yang kini tinggal kenangan itu.

Sudah saatnya sekarang kita tinggalkan metode pendidikan yang serba meraba-meraba yang mengorbankan anak didik dari generasi ke generasi sebagai kelinci percobaan. Marilah kita mengakui kesalahan dan belang kita, bahwa kegagalan demi kegagalan yang kita temukan selama ini adalah akibat daripada ketidak seriusan kita dalam memikirkan dan menekuni Islam.

Pengetahuan dan pengalaman kita tentang Islam tidak ada bedanya dengan sekumpulan orang buta yang meraba seekor kerbau. Bagi mereka yang sempat meraba tanduknya akan menarik kesimpulan bahwa kerbau itu keras dan runcing. Yang memegang ekornya menyatakan bahwa kerbau itu panjang dan suka memecut-mecut. Yang hanya meraba telinganya berkata bahwa kerbau itu lebar dan mengibas-kibas, dan yang hanya meraba tahinya, mendapatkan kesan bahwa kerbau itu lembut dan mengeluarkan bau yang tidak enak.

Begitulah perumpamaan sekilas bagaimana cara kita menyentuh dan meraba Islam. Bagi kita yang hanya sempat menyentuh tanduk Islam akan menganut aliran keras, yang tahunya hanya ribut dan berkelahi, yang menganggap orang yang tidak keras tidak dapat diandalkan membawa Islam ini jaya. Sebaliknya kita yang hanya sempat meraba bagian yang lembut itu, tahunya melempem saja. Ucapannya hanya : Masya Allah.... dan Innalillah....., kendati orang-orang disekitarnya telah lama menjudi dan melacur, tanpa upaya mencari jalan keluar dari lilitan kemaksiatan itu.

Alhamdulillah, betapapun bodoh dan kurangnya tenaga kita, tetapi kita sudah memiliki pola dan rumusan yang merupakan pegangan kita dalam melangkah dan bergerak.

 

Daftar Isi