|
PILAR-PILAR IMAN Jagad raya yang luas ini mestinya membisikkan kepada akal untuk merenung dan menyadarkan manusia hingga sampai kepada kesimpulan pasti tiada keraguan bahwa suatu karya menunjukkan adanya pencipta. Adanya makhluq menegaskan adanya khaliq. Namun siapakah penciptanya? Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan jawaban, supaya tampak nyata kepada manusia dan memberi petunjuk serta meneranginya. Di sinilah timbul kebutuhan manusia kepada para Rasul dan para Nabi untuk menjadi mediator antara pencipta dan hamba-hamba-Nya, membukakan jalan kebenaran serta mengantarkannya kepada penyembahan yang benar kepada pencipta, pemberi rizki dan yang mengendalikan segala-galanya serta tiada sekutu bagi-nYa. Dalam salah satu ayat al-Qur'an, Allah menjelaskan sifat-sifat orang beriman. yaitu rasa takut bila disebut nama Allah, bertambah iman bila membaca ayat-ayat-Nya, berserah diri kepada-Nya tidak kepada yang lain, mendirkan shalat dan berinfaq di jalan Allah. BERTAMBAHNYA IMAN SAAT MEMBACA AYAT ALLAH Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah adalah al-Qur'an dan alam semesta ini. Dan yang dimaksud dengan bertambah iman adalah bertambah yakin dan tenang, karena bertambahnya dalil dan argumentasi yang saling mendukung. Iman itu dapat bertambah dan berkurang. Di sini letak perbedaan antara keyakinan para nabi, para ahli mukasyafah dengan keyakinan individu-individu ummat. Memang ada perbedaan antara keimanan seseorang yang mendengar dengan keyakinan, dengan seseorang yang melihat dan mendengar tanpa keyakinan. Ibarat benda padat yang dicangkul atau dipahat, semakin tajam alatnya dan semakin banyak dihujamkan tentu pengaruhnya semakin dalam dan semakin jauh. Demikian jga iman semakin banyak dalil dan argumentasi yang mendukungnya, maka akan semakin besar pengaruhnya dalam hati. Meski hati manusia itu beragam seperti beragamnya macam tanah. Ada tanah yang mudah digarap dan produktif, ada tanah yang pengelolaannya membutuhkan tenaga besar baru produktif. Ada tanah yang tidak produktif walaupun telah dikelola dengan biaya dan tenaga yang besar. Begitu pula iman manusia, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan hati dan perbedaan dalil yang diberikan kepadanya. TAWAKKAL Berserah diri kepada Allah semata. Tawakkal merupakan jenjang yang tinggi serta martabat yang mulia, yang nyaris tidak dapat dicapai selain orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, "Seandainya kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pasti Allah akan memberimu rizki sebagaimana Allah memberi rizki pada burung-burung. Mereka berangkat dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyan." (HR. Turmudzi) Tawakkal yang dimaksudkan bukan kemalasan dan bukan tidak berusaha, sebab usaha dan bekerja kreas adalah sarana yang Allah jadikan asas untuk membangun alam. Islam menyeru manusia untuk beramal dan bekerja keras, selebihnya berserah diri kepada Allah. Allah memberi rizki kepada burung-burung itu karena mereka meninggalkan sarangnya, terbang mengelilingi daratan, lembah-lembah, pepohonan, sungai-sungai dan lautan untuk mencari rizki. Seandainya mereka hanya menetap di sarangnya, tentu akan menjadi mangsa kelaparan dan kehausan. Mereka akan mati sebagai harga kemalasannya. Umar pernah berkata, "Janganlah salah seorang kalian tidak berusaha lalu berdoa, 'Ya Allah berilah aku rizki', sementara kalin tahu bahwa langit itu tidak menurunkan hujan emas dan tidak juga perak." MENDIRIKAN SHALAT Mendirikan shalat artinya melaksanakan shalat dengan sempurna. Hal itu dapat dicapai dengan kekhusyukan dan pengosongan hati dari segala kesibukan dunia. Kalau shalat hanya sekedar berdiri, rukuk, dan sujud tanpa kekhusyukan, maka itu adalah shalat yang tidak sempurna. Shalat yang tidak sempurna tidak berfungsi mencegah perbuatan keji dan munkar. Shalat yang disertai rasa keagamaan yang luruslah yang dapat mempertemukan pelakunya dengan Tuhannya di tengah-tengah shalatnya, saat bermunajat kepada Tuhannya dalam keadaan duduk, rukuk, dan sujud. Lalu bagaimana agar shalatnya khusyuk? Antara lain dengan cara shalat tepat pada waktunya. Bahkan sebelum tiba waktu shalat, kita sudah mempersiapkan diri, itu lebih baik. Kita persiapkan diri kita secara fisik maupun psikologis, untuk mengahadap kepada Allah. Ini menunjukkan kesungguhan kita ketika hendak bertemu dengan Allah. Bukan malah berleha--leha, meski adzan sudah memanggil. Yang ini namanya bukan mendirikan shalat, tetapi sekedar gugur kewajiban saja. Yang penting shalat, khusyuk atau tidak, itu bukan soal. Ingat perintah Allah, bukan laksanakan shalat, melainkan dirikanlah shalat. "Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan rukuklah beserta mereka yang rukuk." (QS. al-Baqarah: 43) BERINFAQ DI JALAN ALLAH Berinfaq di jalan Allah, yaitu membayar zakat dan bershadaqah. Jangan khawatir harta benda yang kita infaqkan itu bakal sia-sia. Manusia seringkali dihinggapi ketakutan akan jadi miskin, atau harta bendanya berkurang jika harus dikeluarkan zakatnya. Padahal rasa takut itu adalah bujukan syetan. Firman Allah, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. al-Baqarah: 155) Itulah pilar-pilar iman. Itulah sifat-sifat orang mukmin yang merasakan manisnya iman, mengalir padanya seperti mengalirnya darah dalam tubuh. Ulama salaf menjadi panutan dalam perilakunya, menerangi sejarah manusia sebagaimana penerangan bintang di bawah asuhan Rasulullah SAW. Sepatutnyalah kita menirunya dalam usaha mewujudkan hakekat iman dengan substansinya, dan bukan formalitasnya. Tanpa itu semua, biscaya sulit bagi kita untuk menembus batas kualitas. Alias kita terjebak pada kegiatan seremonial, lupa hakekat.
|
| Daftar Isi |