SEKOLAH DUNIA AKHIRAT

 

Hari-hari ini tentulah saat bagi banyak orang tua untuk menentukan ke mana anak-anaknya harus melanjutkan sekolah. Bagi yang berduit barangkali tidak terlalu ambil pusing sekolah jenis apa yang diingini anaknya. Tetapi bagaimana dengan yang penghasilannya pas-pasan saja? Proporsionalkah mengorbankan sekolah anak hanya karena ketidakmujuran orang tua?

Dilihat dari kepentingannya, seharusnya memang anak berhak untuk mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya, utamanya bagi masa depannya kelak. Sekalipun kesuksesan di sekolah bukan jaminan bagi kesuksesan kehidupan anak secara keseluruhan, namun tetap ada korelasinya. Sesederhana apapun, pendidikan tetap merupakan kebutuhan pokok bagi setiap generasi. Setidaknya pendidikan yang memenuhi persyaratan minimal untuk bisa survive dalam persaingan.

Al-Qur'an sejak 14 abad silam telah mengingatkan, diantaranya lewat surah az-Zumar: 9 "...Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengerti dengan orang-orang yang tidak mengerti?'..."

Mengerti dan tidak mengerti merupakan titik pembeda, sebagai hasil dari proses pendidikan. Memang cakupan 'mengerti' dalam ayat ini sangat luas, bukan hanya berdimensi akal pikiran. Mengerti ini menyangkut pemahaman, juga kesadaran nurani. Bedakan dengan 'mengetahui' yang berdimensi jasadi (melihat, menyaksikan, mendengar dsb.)

Pada dimensi ini, maka pendidikan yang dibutuhkan oleh setiap generasi juga sehausnya mencakup wilayah yang sangat luas. Bahkan pada dasarnya seluruh hiruk-pikuk kehidupan ini merupakan sarana pendidikan juga. Tetapi tentu saja tidak semua orang bisa belajar dari lingkungannya. Dan lebih sedikit lagi yang bisa mengandalkan kemampuannya untuk mengambil pelajaran guna membekali hidupnya. Diperlukan dasar-dasar kemampuan pribadi untuk bisa melakukan analisa, perhitungan, kalkulasi, prediksi dan sejenisnya. Lalu juga dibutuhkan kemampuan tambahan untuk mempergunakan hati nuraninya dalam pengambilan keputusan.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa sekolah dan kuliah adalah segala-galanya bagi anak. Tetapi setidaknya itu merupakan jalan, pembuka bagi didapatnya kemampuan pribadi. Latihan-latihan yang mereka peroleh di bangku sekolah jelas tidak sekompleks dalam panggung kehidupan nyata. Tetapi kepala anak didik yang terbiasa berpikir kritis dan dikejar target di sekolah, akhirnya itu bisa dimanfaatkan untuk banyak hal.

Kreativitas pribadi, juga bisa muncul dari mana saja. Banyak contoh, anak-anak yang tidak mendapatkan jatah pendidikan (dalam artian sekolah) secara memadai, ternyata bisa melakukan sesuatu yang luar biasa setelah dewasa. Ada yang jadi miliuner, ada yang menjadi penemu dan namanya melegenda. Ada yang menjadi pemimpin yang disegani baik oleh lawan maupun kawan. Tetapi apakah kita akan terpaku pada contoh-contoh seperti itu? Jumlah anak kreatif boleh dikata seribu banding satu. Apakah kalau anak kita bukan yang satu itu, lantas kita tidak mengantisipasi kalau-kalau ia termasuk di antara yang seribu?

Islam bahkan menekankan begitu tegas, bahwa ilmu sangatlah penting. Menuntut ilmu dinilai lebih tinggi ketimbang menghabiskan semalaman untuk beribadah. Mereka yang mati di jalan menuju ilmu, bisa dikategorikan mati syahid. Mereka yang berilmu juga ditinggikan beberapa derajat bersama orang-orang yang beriman.

Padahal sudah jelas, bahwa Islam bukanlah 'agama ilmu'. Artinya Islam sangat mementingkan amal nyata. Ilmu tanpa amal ibarat tanaman tak berbuah, kata orang bijak. Seruan Islam untuk meningkatkan amal sebanyak-banyaknya itu diiringi dengan motiasi kuat untuk mencari ilmu. Sebab beramal tanpa ilmu ibarat orang buta berlari kencang, gampang kesasar dan tidak bisa mengevaluasi jalan yang telah dilewati.

Tentang perlunya bekal hidup di dunia berupa ilmu untuk mencapai kehidupan akhirat, mungkin kita sudah tidak mempersoalkan lagi. Sekarang yang kita hadapi adalah kenyataan, bahwa tidak semua lembaga ilmu memberikan bekal itu kepada anak-anak kita. Kenyatannya, kita lebih sering harus memberikan kepada mereka bekal setengah-setengah. Artinya, dimensi bekal itu sendiri tidak bisa menyeluruh. Mungkin terlalu bernilai serba akhirat, terlepas dari dunia. Hasilnya, anak didik tidak siap bersaing dalam gerak cepat dan gelombang keduniaan. Mereka tersingkir dari perputaran yang semakin cepat. Artinya peran mereka sangat kecil, karena aktivitasnya hanya meliputi lingkungan yang sangat sederhana. Mereka tidak adapun tidak berpengaruh apa-apa terhadap masyarakatnya, apalagi terhadap stabilitas negara dan dunia.

Sebaliknya ada bekal yang terlalu mengagung-agungkan dunia. Seakan manusia hanya akan hidup sekali ini saja, sehingga surga dan neraka juga harus bisa disaksikan dan dirasakan saat masih hidup di dunia. Dengan bekal sedemikian, banyak diantaranya yang berhasil meraih sukses. Kekayaan, kekuasaan, kemewahan, mereka nikmati tanpa beban apa-apa. Gaya hidup yang serba bebas dan glamour merupakan bumbu kehidupan keseharian mereka. Senyum, tawa, dan bau parfum mereka merebak ke mana-mana. Tetapi karena salah didik, mereka lupa selain urusan dunia. Surga yang telah mereka minta semasa hidup, tidak akan lagi mereka dapatkan setelah mati. Berapa kerugiannya? Ibarat tidur setengah jam di sore hari kemudian terbangun dan gelisah ketakutan sampai pagi dan diteruskan sampai malam berikutnya.

Bekal yang berdimensi dunia akhirat ini, kalau memang tidak bisa didapatkan di sekolah, maka tetap menjadi tanggung jawab orang tua untuk memberikannya. Sebisa mungkin, orang tua harus mencarikan sekolah yang ideal, atau setidaknya paling ideal dari yang tidak ideal. Tapi bila itupun ternyata masih kurang, orang tua wajib melengkapinya.

Ketidakpercayaan bahwa sekolah tidak akan mampu memberikan bekal yang lengkap tidak perlu membuat orang tua mundur dari keharusannya menyekolahkan mereka. Sebab di sekolah anak-anak bisa belajar banyak, bagaimana bersosialisasi. Bila mereka hanya dididik semata-mata di rumah sendiri, maka mereka tidak sempat merasakan sakitnya diejek teman-temannya, tidak pernah didorong masuk kolam, tidak juga mengerti bahwa temannya bisa menangis bila pensilnya direbut. Akhirnya tidak lengkap juga didikan yang mereka peroleh jadinya.

Di saat kita masih sibuk berargumentasi, banyak kalangan lain yang sudah melesat jauh dalam mendidik anak-anak mereka. Mereka tidak puas hanya menyekolahkan anaknya di negeri sendiri. Mereka kirimkan ke pusat-pusat pendidikan internasional. Mereka beri kesempatan anak-anak itu berkembang secepat-cepatnya dan seluas mungkin. Dan sepulangnya, mereka juga telah disediakan lahan untuk mengaktualisasikan diri.

Kita tidak sedang membicarakan bahwa bersekolah ke luar negeri itu lebih baik. dari segi akhlaq, aturan moral, cara mendidik demikian tidak ada artinya. Tetapi bahwa anak-anak itu akan memiliki peran lebih banyak setelah mereka kembali, tidak bisa disangkal. Dan inipun merupakan tolok ukur yang penting terhadap keberhasilan pendidikan.

Sementara itu di sekitar kita juga tumbuh sekolah-sekolah elit yang ingin menghasilkan anak didik yang mampu bersaing dengan produk sekolah manapun juga. Sekolah-sekolah ini muncul dengan idealisme yang lebih tinggi. Tetapi ternyata sering-sering biayanya juga tak mau kalah dengan idealismenya yang menggapai langit. Bagaimana kita harus bersikap?

Sekolah-sekolah elit yang sekaligus mahal itu memang tidak sejalan dengan prinsip pemerataan pendidikan. Tetapi kehadirannya kita maklumi saja, karena memang merupakan tuntutan. Selalu saja terjadi, mereka yang sudah memiliki dasar kesejahteraanlah yang bisa menggapai metode pendidikan yang lebih baik. Mereka yang masih sibuk dengan urusan perut, tidak mungkin memberikan jatah pendidikan lebih baik bagi anak-anaknya.

Yang penting kita bisa mengantisipasi kekurangan-kekurangan tempat mendidik anak-anak kita. Berikan tambahan bila kurang, lengkapi bila masih pincang. Kita wajib sadar, bahwa mendapatkan pendidikan yang memadai merupakan hak bagi anak-anak. Kondisi orang tua tidak boleh menjadi alasan bagi langkah 'mengorbankan' masa depan mereka. Kenyataan yang akan mereka hadapi sungguh berbeda dengan apa yang ada sekarang ini. Kita boleh mendapatkan yang tidak ideal, dulu, dan seperti inilah kondisi kita sekarang. Tetapi jangan sampai hal ini menimpa pula anak cucu kita, karena kita dituntut untuk meninggalkan generasi yang lebih baik.

 

Daftar Isi